malam yang tak diundang
Deskripsi blog
3/2/20262 min read
Malam yang Tak Diundang
Hujan deras di luar, tapi di dalam kamar hotel lantai 17 ini udaranya malah terasa semakin panas setiap detik.
Kau duduk di tepi ranjang, masih memakai kemeja putih kantor yang sudah dua kancing atasnya terlepas—bukan karena sengaja menggoda, katamu tadi, tapi karena “gerah”. Aku tahu itu bohong. Matamu terlalu lama menjelajah leherku setiap kali aku mencondongkan badan untuk mengambil gelas di meja kecil.
Aku berjalan pelan mendekatimu, sengaja membiarkan ujung kimono sutra tipis yang kupakai bergesek lembut di paha. Kain itu hampir tidak menutupi apa-apa, tapi justru itulah daya tariknya—setiap gerakan kecil membuat bayangan tubuh terlihat samar-samar di baliknya, seperti lukisan yang belum selesai.
“Kamu tahu nggak,” suaraku rendah, hampir berbisik, “aku sengaja nggak pakai apa-apa di bawah ini.”
Kau menelan ludah. Keras. Aku mendengarnya.
Jari-jariku menyentuh dagumu, mengangkat wajahmu supaya bertemu mataku. Pupilmu sudah melebar, napasmu sedikit tersendat. Aku bisa melihat denyut nadi di lehermu berpacu lebih cepat.
“Kalau aku bilang… aku mau kamu lihat dulu sebelum kamu boleh sentuh—kamu mau nurut nggak?”
Kau mengangguk pelan, tapi matamu berkata lain—matamu sedang berteriak ingin merobek kain tipis ini sekarang juga.
Aku mundur dua langkah, membiarkan cahaya lampu tidur kuning keemasan menyapu tubuhku. Perlahan aku menarik tali kimono… tapi tidak sampai lepas. Hanya cukup sampai kain itu terbuka lebar di bagian dada, lalu terhenti di pinggang. Payudaraku terlihat jelas sekarang, puncaknya sudah mengeras karena udara dingin AC dan karena tatapanmu yang seperti ingin melahap.
“Kamu boleh lihat,” kataku sambil mencondongkan badan sedikit ke depan, membiarkan payudara bergoyang pelan, “tapi tanganmu tetap di kasur. Belum boleh gerak.”
Kau menggigit bibir bawah sendiri. Keras. Aku tahu kamu sedang berjuang mati-matian.
Aku berbalik perlahan, membiarkanmu melihat punggungku yang melengkung, lalu turun ke bokong yang hanya ditutupi sehelai kain tipis yang nyaris tak ada artinya. Aku membungkuk sedikit—sengaja—mengambil botol lotion dari meja rias. Saat aku melakukannya, kain itu tersingkap lebih tinggi. Kau pasti bisa melihat semuanya sekarang.
Aku mendengar desah kecil keluar dari mulutmu. Hampir seperti erangan yang ditahan.
Aku kembali menghadapmu, menuang lotion ke telapak tangan, lalu mengusapkannya perlahan ke leher… turun ke tulang selangka… lalu ke payudara. Gerakanku lambat, melingkar, sengaja membuat putingku bergesek dengan telapak tangan sendiri. Aku menahan desah kecil di tenggorokan, tapi cukup keras agar kau mendengar.
“Kamu… pengen ganti tanganku sekarang?” tanyaku sambil menatapmu dari balik bulu mata yang setengah terpejam.
Kau mengangguk cepat. Terlalu cepat.
“Tapi aku belum kasih izin.”
Aku naik ke ranjang, berlutut di depanmu, lututku mengapit pahamu tapi tidak benar-benar menyentuh. Jaraknya hanya beberapa senti—cukup dekat sampai kau bisa merasakan panas tubuhku, tapi masih terlalu jauh untuk disentuh.
Aku mencondongkan badan sampai bibirku hampir menyentuh telingamu.
“Kalau kamu bisa diam selama aku cium lehermu… tanpa menyentuhku sama sekali… baru nanti aku kasih kamu apa yang kamu pengen.”
Aku tidak menunggu jawaban.
Bibirmu langsung mendarat di lehermu—pelan, basah, lidahku menyapu garis nadi yang berdenyut kencang. Kau mengepal sprei kuat-kuat. Napasmu jadi pendek-pendek. Aku bisa merasakan tubuhmu gemetar di bawahku.
Aku turun lebih rendah… ke tulang selangka… lalu ke atas payudara… tapi tidak sampai menyentuh puting. Hanya hembusan napas panas dan sentuhan bibir paling ringan.
Kau mengeluh pelan, suara yang hampir seperti tangisan.
“Masih kuat tahan?” bisikku sambil tersenyum jahat.
Kau menggeleng pelan. Matamu sudah berkaca-kaca karena menahan.
Aku tertawa kecil, lalu akhirnya berbisik di telingamu:
“Kalau begitu… pegang aku sekarang. Keras. Aku mau merasakan seberapa lama kamu sudah menahan diri malam ini.”
Dan saat jari-jarimu akhirnya menyentuhku—kasar, lapar, hampir putus asa—aku tahu malam ini masih sangat panjang.
Kau boleh melanjutkan imajinasimu dari sini. 😈